Bacaan  

Rabu, 10 Juni 2009

Belajar Sambil Bermain 

Buat anak Balita, bermain adalah pekerjaannya. Makanya dikatakan, dunia anak adalah dunia bermain. Namun, sambil bermain, sebenarnya anak belajar, yaitu mengembangkan seluruh aspek dalam dirinya. 

DEFINISI 

  Bermain ialah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi kesenangan, tanpa ada tujuan atau sasaran yang hendak dicapai. Jadi, apa pun kegiatannya, bila dilakukan dengan senang bisa dikatakan bermain. Pun bila sebenarnya bekerja, misal, membantu ibu memotong sayur di dapur, tapi karena dilakukan dengan senang dan atas inisiatif si anak, maka pekerjaan itu baginya dinamakan bermain. Begitu pula bila inisiatif bermain atas ajakan orang tua, tetap dikatakan bermain, asalkan si anak senang melakukannya. Sebaliknya, jika anak melakukan perbuatan yang kita anggap bermain, tapi dengan terpaksa atau dipaksa, maka tak bisa dikatakan bermain.
  Itu sebab, bermain dikatakan sebagai kegiatan inklusif dan inheren, yaitu muncul motivasi dari dalam diri dan tak perlu diajarkan lagi. Soalnya, sejak bayi memang ada kebutuhan bermain. Namun begitu, suatu kegiatan baru dikatakan bermain bila dilakukan setelah usia 3 bulan. Sebelum usia 3 bulan, kegiatannya didasarkan dorongan untuk mencapai kesenangan.
  Definisi berlaku sampai tua. Hanya, orang dewasa menyebutnya bukan bermain, melainkan berekreasi. Sementara bermain untuk anak usia sekolah bukan atas dorongan semata, tapi juga disertai rasa ingin menang. Jadi, belum pantas bila anak balita dipacu untuk menang semisal mengikuti lomba-lomba yang menekankan kesempurnaan hasil. Hal ini sama saja dengan merampas hak anak. 

MANFAAT BERMAIN 

Manfaat bermain amat banyak dan selalu menyakut tiga ranah, yaitu : 

Fisik-Motorik
Anak akan terlatih motorik kasar-halusnya. Dengan bergerak, ia akan memiliki otot-otot tubuh yang terbentuk secara baik dan lebih sehat. 

Sosial-Emosional
Anak merasa senang karena ada teman bermainnya. Di tahun-tahun pertama kehidupan, orang tua merupakan teman bermain yang utama bagi anak. Ini membuatnya merasa disayang dan ada kelekatan dengan orang tua, selain belajar komunikasi dua arah. 

Kognisi (berhubungan dengan berpikir/kecerdasan)
Anak belajar mengenal atau punya pengalaman mengenai objek-objek tertentu seperti: benda dengan permukaan kasar-halus, rasa asam, manis, dan asin. Ia pun belajar perbendaharaan kata, bahasa, dan berkomunikasi timbal-balik. Makin usia bertambah, ia pun tertarik memperhatikan sesuatu, memusatkan perhatian, mengamati, misal, kala diperlihatkan buku-buku bergambar. 

Pada anak-anak yang mengalami ganguan seperti autisme atau hipraktif, lewat media bermain juga dilatih berkonsentrasi, mengenalkan warna atau bentuk, dan sebagainya. Anak autis juga dilatih untuk melakukan kontak dengan orang lain; sedangkan anak hiperaktif atau gangguan atensi dilatih untuk memperhatikan dengan lebih sabar dan mau mencoba menyelesaikan tugasnya. 

HARUS SEIMBANG 

Kita hendaknya tak cuma mengembangkan aspek kodinisinya yang distimulasi sejak dini agar cerdas, bisa-bisa anak jenuh. Berdasarkan studi banding di Amerika Serikat, dilakukan penelitian longitudinal terhadap anak-anak TK antara kelompok yang diberikan program 3M (Membaca, Menulis, Menghitung) dengan yang tidak, ternyata 10 tahun kemudian kemampuan akademis mereka sama. Bahkan anak yang dirangsang terlalu dini, akhirnya mengalami gangguan-gangguan emosi, tak mau sekolah, berperilaku menyimpang, atau memberontak.
  Seimbangkan juga kegiatan fisik dengan kegiatan di tempat seperti main lego, meronce, atau menggambar. Meski si anak tipe aktif yang tak suka permainan diam ditempat atau sebaliknya, kita tetap harus menyeimbangkannya. Jadi, anak harus punya kesempatan bermain yang melibatkan fisiknya, selain bermain yang perlu ketekunan. Dengan begitu wawasannya jadi luas. Bila ia hanya bermain secara fisik terus, anak kurang mendaoat kesempatan memperoleh berbagai pengetahuan dan kurang terlatih ketekunan serta konsentrasinya.
  Sebaliknya, jika hanya bermain di tempat, tapi kurang kegiatan fisik, ia jadi kurang terampil pada kegiatan luar yang akan berdampak pada sosialisasi dengan teman-temannya kelak, juga mempengaruhi kepercayaan dirinya. Jadi, bila ia keasyikan bermain di tempat, dorong ia bermain di luar rumah. Ajakia bermain ayunan, meniti di atas balok, bermain bola, atau melompat. Selain melatih keterampilan fisiknya, bermain di luar memberinya kesempatan betemu teman sebayanya. ia pun bisa bebas mengekspresikan emosinya; bebas berteriak, jingkrak-jingkrak. Dengan demikian, selain fisik motoriknya berkembang, juga emosi-sosialnya. 

TAK PERLU MAHAL 

Bermain sambil belajar bisa dilakukan melalui aktivitas : 

Fisik
Maksudnya: merangkak, berjalan, berayun, atau ciluk-ba. Dalam merangkak, misal, selain melatih motorik kasarnya, juga mengaktifkan otak kanan dan kirinya. Jadi, saat anak merangkak, kita bisa menemaninya (ikut merangkak) semisal "berlomba" sampai tujuan tertentu. Pun kala ia mulai belajar berjalan dengan cara merambat, kita tirukan dan ajak ia "berlomba". Hingga, ia terdorong melatih motorik kasarnya, selain juga mendekatkan hubungan dengan ayah-ibu. 

Memanfaatkan benda-benda yang ada di rumah.
Anak bisa bereksplorasi dengan barang-barang rumah tangga, semacam centong kayu dengan panci sebagai alat musik, belajar memutar atau memasukkan wadah dengan tutupnya, atau bermain dengan cermin dan lainnya. 

Mengunakan alat permainan edukatif.
Alat permainan edukatif adalah alat yang sengaja dirancang untuk tujuan tertentu. Syaratnya : 

Dapat digunakan dalam berbagai cara atau dapat dibuat dalam macam-macam bentuk, dengan macam-macam manfaat dan tujuan. Misal, mainan balok-balok atau meronce, yang bisa disusun sesuai kehendak, apakah diurutkan dari yang besar ke kecil ataukah berdasarkan warna/bentuk tertentu. Selain melatih motorik halus, juga pengenalan warna, bentuk, dan ukuran.
Lilin mainan atau playdough juga termasuk mainan edukatif karena bisa mendorong imajinasi anak dan melatih jari-jemarinya, maski sebelumnya kita harus memberi contoh bagaimana menggunakannya. Kalu tidak, anak tidak tahu mau diapakan karena permainan ini tak terstruktur. 

Ditujukan untuk anak usia di atas 1,5 tahun dan berfungsi mengembangkan berbagai aspek perkembangan, baik fisik, emosi-sosial, atensi, serta kognisi, entah berupa daya nalar, bahasa, konsep dasar, bentuk, dan lainnya. Anak usia 10 bulan juga sudah bisa dikenalkan dengan puzzle tunggal, dikenalkan pada warna dan binatang. 

Aman bagi anak, baik dari cat, warna, serta bahan dasarnya yang rapi atau tidak tajam. Jadi, perhatikan kalau-kalau catnya mudah terlupas atau permukaannya runcing. 

Membuat anak terlibat secara aktif atau melakukan sesuatu. Beda dengan mendengarkan cerita atau menonton TV yang hanya pasif mendengarkan dan melihat dimana anak tak aktif melakukan sesuatu dengan intensif. 

Sifatnya konstruktif. Jadi, ada sesuatu yang dihasilkan dari apa yang ia buat, entah bermain lego, balok, atau menggambar, misal. 

Jika alat permainan edukatif tak bisa terbeli karena keterbatasan ekonomi, kita bisa berkreasi dengan membuatnya dari bahan-bahan yang ada dirumah. Misal, bagi yang tinggal di dekat pantai bisa menggunakan kumpulan kerang-kerang aneka bentuk dan ukuran yang telah dicuci bersih. Anak bisa diminta menyusun dari ukuran yang besar ke kecil atau dibuat bentuk tertentu, dironce. 

Jadi, asalkan orang tua kreatif, sebenarnya mainan tak perlu mahal, tapi bisa dibuat sendiri. Misal, untuk melatih indera pendengaran, isilah botol bekas dari bahan kaleng dengan sesuatu agar berbunyi kala dikocok; untuk mengenalkan warna, bisa diambil berbagai macam jenis bunga atau buah. Kulit jeruk atau kotak korek api bisa dibuat mobil-mobilan. Pun bila ingin punya puzzle, kita bisa membuatnya dari pototngan gambar di majalah yang ditempelkan ke kertas karton lantas dipotong-potong membentuk puzzle. Tentu tinggal menyesuaikan dengan usia anak; untuk usia lebih dini, dibuat puzzle tunggal, misal, gambar gajah utuh atau bunga mawar utuh; untuk tahapan selanjutnya, puzzle bisa dibuat lebih rumit lagi.

AddThis Social Bookmark Button
Email this post


0 komentar: to “ Bacaan

Design by Amanda @ Blogger Buster